IHSG Anjlok Bukan Berarti Ekonomi RI Jelek




Jakarta, CNN Indonesia

Bank Indonesia (BI) menegaskan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak dapat dijadikan indikator utama untuk menilai kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) BI Solikin M Juhro menjelaskan pelemahan IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dan persepsi investor, bukan karena fundamental ekonomi yang memburuk.

“Ini yang teman-teman lupa, seakan-akan ekonomi kita jelek karena tempo hari IHSG turun drastis, yang juga pelarian tekanan nilai tukar. Padahal tidak begitu,” ujar Solikin dalam Taklimat Media BI, Rabu (26/3).

IKLAN

Gulir untuk melanjutkan konten

“Memang sentimen dan persepsi itu penting dan harus dibentuk dengan komunikasi yang baik. Tetapi poin utamanya adalah angka-angka fundamental kita yang masih kuat,” ujar Solikin.



Menurutnya, berbagai indikator makroekonomi menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih solid dan terkendali.

Ia menyoroti berbagai aspek seperti utang, stabilitas sistem keuangan, serta permodalan perbankan masih dalam kategori sehat dan terkendali.

“Kita bicara dari GGB (imbal hasil obligasi pemerintah), dari inflasi karbon, semua ini dalam kondisi yang baik. Utang kita juga masih dapat dikelola. Dari sisi indikator KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), permodalan dan risiko tetap terjaga dengan baik,” tambahnya.

Lebih lanjut, Solikin menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup kuat dibandingkan negara-negara lain di tengah tantangan global.

Ia mencontohkan meskipun Vietnam mencatatkan pertumbuhan tinggi, tingkat inflasi negara tersebut juga lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

“Kita lihat pertumbuhan ekonomi kita masih bisa mencapai 5 persen. Vietnam memang tumbuh tinggi, tapi inflasinya lebih tinggi. India inflasinya 5 persen, sedangkan kita hanya 1,5 persen. Ini ada trade-off dalam kebijakan. Dalam kondisi normal, semua faktor ekonomi harus dioptimalkan tanpa mengorbankan satu dimensi tertentu,” jelasnya.

Menurut Solikin, dalam mengelola kebijakan ekonomi, BI selalu mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Ia menegaskan stabilitas tetap menjadi prioritas utama dalam kebijakan moneter Indonesia.

“Ada yang disebut overriding objective, yaitu inflasi. Karena sasaran utama kita adalah mencapai stabilitas. Tetapi dalam kondisi normal, semuanya harus dioptimalkan. Apakah kita lebih memilih inflasi 1 persen tetapi ekonomi hanya tumbuh 4 persen? Atau inflasi 3 persen tapi pertumbuhan ekonomi 6,5 persen? Ini yang harus kita lihat secara keseluruhan,” terangnya.

Sebagai perbandingan, Solikin mengingatkan situasi saat ini berbeda dengan krisis keuangan Asia 1997-1998. Kala itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat tinggi, namun rapuh, sehingga ketika krisis melanda, dampaknya sangat besar.

“Pada saat krisis keuangan Asia, Indonesia disebut sebagai macan Asia. Tapi dua minggu kemudian, jadi macan Kemayoran karena terkena krisis. Itu yang harus kita pahami. Sekarang, fundamental kita jauh lebih baik,” tegasnya.

IHSG anjlok lebih dari 6 persen ke level 6.046 pada Selasa (18/3) lalu.

Pelemahan berlanjut. IHSG sempat anjlok ke level sekitar 5.900 pada perdagangan Senin (24/3) lalu. Namun Rabu (26/3) ini, IHSG menguat 3,42 persen ke 6.472.

[Gambas:Video CNN]

(Bagian/Harga)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *